BBCA dan BBRI Menguat Seiring Pertumbuhan Kredit Digital 2026

Saham BBCA dan BBRI menguat seiring pertumbuhan kredit digital yang solid di awal 2026. Analis rekomendasikan buy dengan target harga lebih tinggi untuk kedua emiten.

PoinTru.com - Dua saham perbankan terbesar di BEI, BBCA dan BBRI, mencatat kinerja positif di awal Maret 2026 seiring rilis laporan pertumbuhan kredit digital kuartal pertama yang melampaui ekspektasi analis. BBCA ditutup menguat 2,1 persen ke level Rp 10.250 per lembar, sementara BBRI naik 1,8 persen ke Rp 4.920-keduanya memimpin penguatan sektor perbankan dalam sesi perdagangan Jumat (6/3/2026).

Kinerja Kredit Digital BCA dan BRI

BCA melaporkan pertumbuhan kredit digital sebesar 67 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Produk unggulan seperti BCA Fleksi (KTA digital) dan kredit kepemilikan rumah berbasis aplikasi MyBCA menjadi kontributor utama. BRI mencatat pertumbuhan kredit ultra-mikro dan mikro digital melalui platform AgenBRILink dan aplikasi BRImo sebesar 54 persen-tumbuh pesat berkat ekspansi ke wilayah 3T yang sebelumnya tidak terjangkau kantor cabang konvensional. Pendapatan berbasis biaya dari layanan digital juga mencatat pertumbuhan solid di atas 30 persen untuk kedua bank.

Rekomendasi Analis

Mayoritas analis mempertahankan rekomendasi "Buy" untuk kedua saham pasca-rilis data ini. Mandiri Sekuritas menaikkan target harga BBCA menjadi Rp 11.500 (dari sebelumnya Rp 10.800) dengan pertumbuhan laba per saham yang diproyeksikan 14-16 persen untuk 2026. Untuk BBRI, target harga dinaikkan ke Rp 5.600 berdasarkan ekspektasi perbaikan NPL dan ekspansi agresif segmen UMKM digital.

"BBCA dan BBRI adalah dua dari sedikit bank yang berhasil bertransisi dari model konvensional ke digital tanpa kehilangan keunggulan kompetitif. Pertumbuhan kredit digital mereka adalah transformasi fundamental yang berdampak jangka panjang," kata Chief Economist sebuah sekuritas nasional.

Outlook Saham Perbankan 2026

Outlook sektor perbankan untuk 2026 dinilai positif, didukung siklus penurunan suku bunga yang diharapkan berlanjut, pertumbuhan kredit yang solid, dan kualitas aset yang terjaga. Risiko utama yang perlu dipantau adalah perlambatan ekonomi global dan potensi pelemahan Rupiah yang berdampak pada biaya dana bank yang mengandalkan pendanaan valas.

EmitenHarga (6/3/2026)Pertumbuhan Kredit DigitalTarget Analis
BBCARp 10.250+67% YoYRp 11.500 (Buy)
BBRIRp 4.920+54% YoYRp 5.600 (Buy)
BMRIRp 6.100+48% YoYRp 7.000 (Buy)

Investor ritel yang ingin mengekspos portofolio ke pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dapat mempertimbangkan saham perbankan digital sebagai instrumen dengan fundamental paling kuat dan likuiditas memadai. Namun diversifikasi dan pemahaman mendalam tentang risiko tetap menjadi prasyarat utama sebelum mengambil keputusan investasi.