Fi Sabilillah di Abad 21: Guru Ngaji dan Dai Terpencil sebagai Pejuang Baru di Jalan Allah

Fi sabilillah di era modern mencakup guru ngaji dan dai terpencil tanpa gaji memadai. Pahami reinterpretasi asnaf ini dan dampak nyata zakat bagi ekosistem pendidikan Islam.
Fi sabilillah di era modern mencakup guru ngaji dan dai terpencil tanpa gaji memadai. Pahami reinterpretasi asnaf ini dan dampak nyata zakat bagi ekosistem pendidikan Islam.

PoinTru.com - Pak Hasan mengajar mengaji dua puluh anak setiap malam di masjid kecil di pelosok Kalimantan. Ia tidak punya gaji tetap, hanya amplop seikhlasnya dari wali murid yang kadang berisi Rp20.000, kadang kosong. Di zaman Rasulullah SAW, fi sabilillah merujuk pada pejuang yang berperang membela agama dan tidak punya bekal. Di Indonesia abad 21, Pak Hasan adalah wajah baru dari kategori asnaf yang sama.

Reinterpretasi yang Relevan

Mayoritas ulama kontemporer Indonesia sepakat bahwa fi sabilillah dalam konteks modern mencakup mereka yang berjuang menegakkan nilai-nilai Islam tanpa kompensasi finansial yang memadai: pengajar agama di sekolah informal, dai di daerah terpencil, pengelola pesantren kecil yang kekurangan dana operasional, dan aktivis pendidikan Islam di komunitas marginal. Esensinya tetap sama—mereka berjuang di jalan Allah namun tidak memiliki bekal yang cukup.

Dampak Nyata Distribusi Zakat

Ketika lembaga amil mendistribusikan zakat kepada guru ngaji dan dai terpencil, dampaknya melampaui sekadar bantuan individual. Satu guru ngaji yang terdukung secara finansial dapat terus mengajar puluhan anak yang seharusnya tumbuh tanpa pendidikan agama. Satu dai yang mendapat dukungan dapat menjangkau ratusan orang di daerah yang tidak tersentuh lembaga dakwah formal.

Outlook ke Depan

Program beasiswa dai daerah tertinggal yang didanai zakat fi sabilillah menjadi salah satu prioritas program BAZNAS 2026, dengan target menjangkau lebih dari dua ribu tenaga pendidik agama di wilayah 3T Indonesia. Untuk berita terkait lainnya, kunjungi Sitemap.