PayLater Makin Diminati: 60 Juta Pengguna Aktif 2026

Pengguna aktif layanan PayLater di Indonesia capai 60 juta pada 2026 dengan nilai transaksi Rp 180 triliun, didominasi Gen Z dan milenial.

PoinTru.com - Layananbuy now pay later (BNPL) atau yang lebih dikenal sebagai PayLater di Indonesia mencatatkan lonjakan tajam dengan total pengguna aktif menembus 60 juta orang pada awal 2026, menghasilkan nilai transaksi agregat sebesar Rp 180 triliun dalam 12 bulan terakhir, dan menegaskan bahwa model pembiayaan konsumen berbasis digital ini telah menjadi instrumen keuanganmainstream di Indonesia, khususnya di kalangan Generasi Z danmillennial.

Siapa Pengguna PayLater Indonesia?

Riset terbaru dari lembaga survei Jakpat yang dilakukan pada Februari 2026 memberikan gambaran yang menarik tentang profil pengguna PayLater di Indonesia. Sebanyak 68% pengguna aktif berusia antara 18 hingga 35 tahun, dengan 41% di antaranya berpendapatan di bawah Rp 5 juta per bulan. Fakta ini mengindikasikan bahwa PayLater telah menjadi instrumen kredit primer bagi segmen masyarakat yang belum atau tidak memiliki kartu kredit tradisional - suatu fenomena yang oleh para ekonom disebut sebagai "demokratisasi kredit konsumen".

Dari sisi kategori penggunaan, belanjae-commerce mendominasi dengan 54% dari total nilai transaksi PayLater, diikuti oleh pembelian makanan dan minuman melalui platform pengiriman (18%), dan pembayaran tagihan serta utilitas (12%). Yang menarik, kategori perjalanan dan akomodasi menunjukkan pertumbuhan tercepat sebesar 145% dalam setahun terakhir, seiring pemulihan industri pariwisata domestik.

"PayLater bukan tentang berhutang, tapi tentang mengelola arus kas dengan lebih cerdas. Generasi kami tidak lagi memisahkan antara keuangan digital dan kehidupan sehari-hari - keduanya sudah menyatu." - Andi Pratama, 27 tahun, pengguna aktif multiple PayLater

Pemain Utama dan Persaingan Produk

Ekosistem PayLater Indonesia kini diramaikan oleh belasan pemain, baik yang berdiri independen maupun yang terintegrasi dalam platformsuper app. Shopee PayLater memimpin dengan pangsa pasar 28%, diikuti Kredivo (22%), Akulaku (18%), Traveloka PayLater (12%), dan GoPay Later (10%). Persaingan semakin ketat karena hampir semua pemain kini menawarkan cicilan nol persen untuk periode tertentu sebagai strategi akuisisi pengguna.

Diferensiasi mulai bergeser dari sekadar persaingan bunga ke kompetisi pada kecepatan persetujuan, kemudahan penggunaan, dan nilai tambah ekosistem. Kredivo, misalnya, kini menawarkan cicilan PayLater di lebih dari 1.000 merchant offline, memperluas penggunaan melampaui batas dunia digital.

Risiko dan Pengawasan OJK terhadap PayLater

Pertumbuhan pesat PayLater tidak lepas dari perhatian regulator. OJK mencatat peningkatan jumlah pengaduan terkait transparansi biaya dan praktik penagihan yang tidak etis dari sejumlah penyedia PayLater. Hal ini mendorong OJK menerbitkan surat edaran yang mewajibkan seluruh penyedia BNPL menampilkan total biaya pinjaman secara eksplisit dalam angka nominal rupiah - bukan hanya persentase - sebelum pengguna mengkonfirmasi transaksi.

Platform PayLaterPangsa PasarBunga/BiayaMax. Limit
Shopee PayLater28%0-2,95%/blnRp 50 juta
Kredivo22%0-2,6%/blnRp 50 juta
Akulaku18%1-3%/blnRp 20 juta
Traveloka PayLater12%0-2,14%/blnRp 50 juta

Dengan penetrasi yang terus meningkat, analis memproyeksikan nilai transaksi PayLater Indonesia akan melampaui Rp 300 triliun pada 2027. Namun, pertumbuhan yang berkelanjutan akan sangat bergantung pada kemampuan industri untuk menjaga tingkat kredit macet tetap terkendali dan membangun kepercayaan konsumen melalui praktik bisnis yang transparan dan bertanggung jawab.