PoinTru.com - Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi hari raya. Suara takbir masih bergema dari pengeras suara masjid. Di luar, langit mulai memudar dari hitam ke kelabu. Saat itulah—dalam jendela waktu yang sangat sempit antara usainya salat Subuh hingga dimulainya salat Idulfitri—tersimpan momen paling utama untuk menunaikan zakat fitrah menurut tuntunan syariat.
Mengapa Setelah Subuh Paling Utama?
Para ulama menyebut rentang waktu ini sebagai waktu afdhal atau waktu paling utama. Alasannya bukan sekadar ritual—ada logika sosial yang sangat humanis di baliknya. Zakat yang diserahkan pada pagi hari raya akan langsung bisa dikonversi menjadi makanan segar yang tersaji di meja makan kaum miskin sebelum mereka berangkat salat Id. Mereka pun merayakan hari kemenangan dengan perut kenyang, bukan menahan lapar menunggu distribusi yang terlambat.
Tantangan Praktis di Lapangan
Kenyataan di lapangan berbicara lain. Banyak panitia amil masjid justru kewalahan ketika ratusan warga tiba-tiba datang bersamaan di pagi buta hari raya. Beras menumpuk, uang belum dihitung, dan distribusi ke mustahik terganggu. Inilah mengapa lembaga BAZNAS dan amil profesional terus mendorong agar masyarakat memanfaatkan waktu mubah—sejak awal Ramadan—sebagai strategi distribusi yang lebih efisien tanpa mengorbankan nilai spiritual.
Outlook ke Depan
Platform zakat digital seperti aplikasi resmi BAZNAS memungkinkan muzakki menjadwalkan pembayaran pada pagi hari raya secara otomatis, menggabungkan ketepatan waktu afdhal dengan kemudahan teknologi modern. Untuk berita terkait lainnya, kunjungi Sitemap.