PoinTru.com - Momen penyerahan amplop atau beras di meja panitia zakat berlangsung tidak lebih dari satu menit. Namun dalam tradisi Islam, momen singkat itu dianjurkan untuk diisi dengan doa yang memuat tiga lapis makna keberkahan sekaligus—bagi yang memberi maupun yang menerima. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan kesadaran spiritual yang membedakan transaksi zakat dari transaksi pasar biasa.
Doa Muzakki: Memohon Diterima
Ketika menyerahkan hartanya, muzakki dianjurkan membaca: Rabbana taqabbal minna, innaka antas samii'ul 'aliim. Doa ini mencerminkan sikap tawadhu—kerendahan hati—di mana muzakki menyadari bahwa amalannya baru akan bermakna jika diterima oleh Sang Pencipta. Tidak ada jaminan otomatis ibadah diterima, dan kesadaran itu sendiri adalah bentuk kematangan spiritual.
Doa Amil: Tiga Lapis Keberkahan
Sebagai respons, amil atau mustahik dianjurkan mendoakan: Ajarakallahu fi ma a'thaita, wa baaraka fi ma abqaita, wa ja'alahu laka thahuuran. Tiga dimensinya jelas, pertama ganjaran pahala atas yang telah diberikan, kedua keberkahan atas sisa harta yang masih dimiliki, dan ketiga fungsi zakat sebagai thahuuran—zat penyuci yang membersihkan harta dari hak orang lain serta membersihkan jiwa dari sifat kikir.
Makna Thahuuran yang Sering Terabaikan
Kata "penyuci" dalam doa ini menegaskan bahwa zakat fitrah berfungsi sebagai kompensasi spiritual atas kekurangan selama Ramadan. Sebagaimana dicatat oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari ucapan yang tidak berguna dan kotor, sekaligus sebagai makanan bagi orang-orang miskin.
Outlook ke Depan
Edukasi tentang doa ijab qobul zakat perlu diperluas agar makna transaksional spiritual ini tidak hilang di tengah kemudahan pembayaran digital yang cenderung mengabaikan prosesi verbalnya. Untuk berita terkait lainnya, kunjungi Sitemap.