PoinTru.com - Ketika Vidi Aldiano mendirikan VA Records pada tahun 2015, ia tidak sekadar membuat label rekaman baru. Ia sedang mengeksekusi tesis magisternya secara nyata di industri yang ia cintai. VA Records adalah manifestasi dari pemahaman Vidi tentang manajemen inovasi: sebuah entitas yang menempatkan kepemilikan atas master rekaman dan kebebasan bereksperimen sebagai nilai tertinggi, jauh sebelum model tersebut menjadi tren di industri musik Indonesia.
Lahir dari Tesis dan Keyakinan
Pendirian VA Records tidak bisa dilepaskan dari perjalanan akademiknya di University of Manchester. Di sana, Vidi memahami secara teoritis bagaimana inovasi disruptif dapat mengubah ekosistem industri yang sudah mapan. Sepulang dari Manchester dengan gelar MSc Innovation Management and Entrepreneurship, ia memutuskan bahwa industri rekaman Indonesia siap untuk diguncang. Label-label konvensional masih menerapkan model kontrak yang memberikan kontrol penuh atas master rekaman kepada perusahaan, bukan kepada artis. VA Records hadir sebagai koreksi atas ketidakseimbangan tersebut.
Melalui VA Records, Vidi mengadopsi model produksi yang kolaboratif dan adaptif terhadap perubahan platform. Ia memahami bahwa di era streaming, aset terbesar seorang artis adalah kepemilikan atas master rekaman dan kebebasan untuk bereksperimen dengan berbagai genre tanpa tekanan dari target pasar yang kaku.
Album Persona: Bukti Nyata Kemandirian Artistik
Karya paling monumental yang lahir dari VA Records adalah album Persona pada tahun 2016. Diproduksi sepenuhnya secara independen, Persona merupakan pernyataan artistik yang matang dengan sentuhan R&B dan Soul yang lebih kental dibanding karya-karya Vidi sebelumnya. Proses mastering album ini bahkan dilakukan di Abbey Road Studios, London-studio legendaris yang sama dengan yang digunakan oleh The Beatles. Hasilnya melampaui ekspektasi: Persona mendapatkan sertifikasi Triple Platinum, setara dengan lebih dari 250.000 keping terjual.
"VA Records bukan sekadar label. Ini adalah pernyataan bahwa seorang artis Indonesia bisa mengontrol seninya sendiri, memiliki master rekamannya sendiri, dan tetap sukses secara komersial tanpa harus menjual kendali kreatifnya ke siapapun," ujar Vidi dalam wawancara eksklusif pada 2016.
Kolaborasi Lintas Batas di Bawah VA Records
VA Records juga memfasilitasi kolaborasi ambisius yang menempatkan Vidi di panggung internasional. Kolaborasi dengan Sheryl Sheinafia dan Jevin Julian dalam lagu "I Don't Mind" memenangkan AMI Awards 2019 untuk kategori Kolaborasi Urban Terbaik. Kemudian, proyek internasional "Run Back to You" bersama Lay Zhang dan Lauv pada tahun 2024 membuktikan bahwa VA Records mampu beroperasi di level global.
| Karya VA Records | Tahun | Pencapaian |
|---|---|---|
| Album Persona | 2016 | Triple Platinum (250rb+ keping) |
| I Don't Mind (ft. Sheryl & Jevin) | 2019 | AMI Awards: Kolaborasi Urban Terbaik |
| Album Senandika | 2022 | 150rb keping dalam 2 bulan (KFC) |
| Run Back to You (ft. Lay Zhang & Lauv) | 2024 | Proyek Kolaborasi Internasional |
VA Records kini menjadi referensi bagi artis Indonesia yang ingin mengikuti jejak kemandirian artistik. Model yang dibangun Vidi membuktikan bahwa label mandiri dengan fondasi bisnis yang kuat bukan hanya bertahan, tetapi juga mampu bersaing dengan konglomerat label besar-sebuah warisan yang akan terus relevan jauh setelah kepergian sang pendirinya.