Paylater Meledak: Nilai Transaksi BNPL Indonesia Rp 89 T di 2025

Nilai transaksi BNPL Indonesia capai Rp 89 triliun sepanjang 2025, tumbuh 64% YoY. Generasi Z jadi pendorong utama adopsi layanan beli sekarang bayar nanti.

PoinTru.com - Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater mencatat rekor baru di Indonesia: total nilai transaksi sepanjang 2025 mencapai Rp 89 triliun, tumbuh 64 persen dibanding 2024 yang tercatat Rp 54 triliun. Data dirilis Aftech dan diperkuat laporan riset DBS Group Research yang dipublikasikan Februari 2026.

Siapa yang Menggerakkan BNPL?

Generasi Z-lahir antara 1997-2012-tercatat sebagai pengguna BNPL paling aktif, menyumbang sekitar 41 persen dari total pengguna aktif. Generasi milenial menyusul di posisi kedua dengan kontribusi 38 persen. Data Aftech menunjukkan bahwa belanja kebutuhan sehari-hari, pulsa, dan layanan streaming pun kini dibayar menggunakan fitur paylater. Ini mencerminkan pergeseran fundamental dalam perilaku keuangan generasi muda yang lebih nyaman mengelola cash flow melalui kredit jangka pendek.

Pemain Utama dan Strategi Diferensiasi

Shopee PayLater, Kredivo, Akulaku, GoPay Later, dan Traveloka PayLater mendominasi pasar. Persaingan antar pemain kini beralih dari akuisisi pengguna ke retensi dan peningkatan limit kredit. Kredivo mulai menyasar segmen premium dengan limit kredit hingga Rp 50 juta, sementara Akulaku semakin dalam masuk ke segmen pembiayaan produktif melalui kemitraan dengan ribuan merchant B2B.

"BNPL bukan sekadar tren konsumsi. Bagi banyak masyarakat Indonesia, ini adalah instrumen manajemen arus kas yang menggantikan fungsi kartu kredit konvensional yang persyaratannya terlalu ketat," jelas Direktur Riset Aftech.

Risiko Gagal Bayar dan Respons Regulator

OJK mencatat tingkat kredit bermasalah (NPL) BNPL secara agregat berada di kisaran 4,8 persen per akhir 2025. OJK mendorong industri untuk menyempurnakan model credit scoring berbasis AI agar mampu mendeteksi risiko lebih dini.

Platform BNPLEstimasi PenggunaNPL (2025)
Shopee PayLater~22 juta3,2%
GoPay Later~15 juta4,1%
Kredivo~8 juta2,8%
Akulaku~7 juta5,9%

OJK berencana memperkuat regulasi BNPL dengan mewajibkan credit scoring yang terstandar dan terintegrasi dengan SLIK pada 2026. Langkah ini diharapkan meredam risiko overleveraging di kalangan peminjam muda yang sering tidak menyadari akumulasi kewajiban mereka di berbagai platform secara bersamaan.