PoinTru.com - Kepergian Vidi Aldiano akibat kanker ginjal telah meningkatkan perhatian publik Indonesia terhadap penyakit yang sebelumnya hampir tidak dikenal oleh masyarakat awam. Clear Cell Renal Cell Carcinoma (ccRCC) adalah jenis kanker ginjal yang paling umum-mencakup sekitar 70-75 persen dari seluruh kasus kanker ginjal-namun juga salah satu yang paling menantang untuk dideteksi sejak dini karena sering berkembang tanpa gejala yang jelas di tahap-tahap awal. Kisah Vidi menjadi jembatan yang menghubungkan penyakit yang selama ini asing bagi publik Indonesia dengan realita manusiawi yang bisa menyentuh siapapun.
Apa Itu ccRCC dan Mengapa Berbahaya
Clear Cell Renal Cell Carcinoma mendapatkan namanya dari penampakan sel-sel tumor yang tampak "jernih" atau transparan saat dilihat di bawah mikroskop-akibat akumulasi lemak dan glikogen yang tinggi dalam sel-sel tersebut. Jenis kanker ini tumbuh dari sel-sel yang melapisi tubulus proksimal ginjal. Yang membuatnya sangat berbahaya adalah karakteristik pertumbuhannya yang sering kali tanpa gejala hingga tumor mencapai ukuran yang cukup besar, dan kecenderungannya untuk bermetastasis ke organ-organ lain seperti paru-paru, hati, tulang, dan otak.
Dalam kasus Vidi, kanker ditemukan secara tidak sengaja pada Oktober 2019-saat ia memeriksakan kehilangan suara ke dokter THT yang kemudian mendeteksi tekanan darah tidak normal. Benjolan lima sentimeter di ginjal kirinya baru terdeteksi setelah pemeriksaan lanjutan di Singapura. Ini adalah pola deteksi yang sangat umum: kanker ginjal ditemukan bukan karena gejala spesifik dari kankernya sendiri, melainkan dari pemeriksaan atas keluhan yang tidak berkaitan.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Meski sering tidak bergejala di fase awal, ccRCC pada stadium yang lebih lanjut dapat menunjukkan beberapa tanda yang perlu diwaspadai. Hematuria-darah dalam urin-adalah tanda yang paling umum. Nyeri di bagian samping atau punggung bawah yang tidak disebabkan oleh cedera juga patut dicurigai. Penurunan berat badan yang tidak disengaja, kelelahan kronis, dan demam yang tidak disebabkan infeksi adalah gejala-gejala lain yang sering diabaikan karena masing-masing bisa memiliki banyak penyebab lain yang lebih jinak.
"Kasus Vidi mengingatkan kita semua bahwa kanker ginjal sering tidak menunjukkan gejala yang jelas sampai sudah di stadium lanjut. Pemeriksaan kesehatan rutin yang meliputi cek darah dan tekanan darah bisa menjadi jaring pengaman yang menyelamatkan nyawa." - Dokter spesialis urologi Indonesia dalam pernyataan publik pasca wafatnya Vidi
Pilihan Pengobatan dan Perjalanan Vidi
Penanganan ccRCC pada stadium awal umumnya melibatkan pembedahan. Dalam kasus Vidi, nephrectomy total (pengangkatan seluruh ginjal kiri) dilakukan di Mount Elizabeth Hospital Singapura pada Desember 2019. Untuk kasus yang sudah bermetastasis, pilihan pengobatan meliputi kemoterapi, terapi target (targeted therapy), imunoterapi, dan kombinasi keduanya-pilihan yang Vidi jalani dengan berbagai tantangan fisik dan mental selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk menghentikan kemoterapi pada Februari 2025 dan beralih ke pendekatan paliatif.
| Aspek ccRCC | Keterangan |
|---|---|
| Prevalensi | 70-75% dari seluruh kasus kanker ginjal |
| Ciri Khas Sel | Tampak "jernih" di bawah mikroskop |
| Tantangan Utama | Sering tidak bergejala di stadium awal |
| Gejala Stadium Lanjut | Darah dalam urin, nyeri punggung, penurunan berat badan |
| Pengobatan | Pembedahan, kemoterapi, terapi target, imunoterapi |
| Kasus Vidi | Ditemukan stadium 3; nephrectomy total; metastasis 2021 |
Salah satu warisan tidak terduga dari kepergian Vidi Aldiano adalah meningkatnya kesadaran masyarakat Indonesia tentang kanker ginjal ccRCC. Komunitas penyintas kanker ginjal Indonesia yang sebelumnya sangat kecil kini bertumbuh, dengan lebih banyak orang yang berani berbicara tentang pengalaman mereka dan lebih banyak pasien yang datang lebih awal ke dokter setelah mendengar kisah Vidi.